Kontroversi RUU Nikah Siri

Wah, wah, wah…. RUU Nikah Siri ramai dibicarakan. Bahkan tak hanya itu, mulai dari pendemo, forum diskusi, facebookers, sampai ibu-ibu “heboh” membicarakan hal ini. Tentu semuanya punya pendapat masing-masing, yang menurut saya tak perlu ditanggapi secara berlebihan, karena mungkin malah hanya akan menjadi perselisihan.

Karena “heboh” nya berita tersebut, penulis jadi ingin tahu lebih banyak tentang Nikah Siri, karena pernah hampir adu “comment” di facebook gara-gara masalah ini. Mudah-mudahan setelah tahu apa dan bagaimana nikah siri, penulis bisa lebih objektif menanggapinya. Sebelumnya, saya sendiri pernah mendiskusikan hal ini dengan orang tua, beliau menceritakan, di zamannya memang nikah siri banyak dilakukan, namun dahulunya hal ini dilakukan karena ingin menghindari zina atau memang mereka memiliki kesulitan biaya untuk melangsungkan pernikahan di lembaga pencatatan sipil negara. Sayangnya di zaman yang katanya “modern” ini, banyak orang-orang menyalahgunakan nikah siri tersebut, sehingga banyak pihak-pihak yang dirugikan, mulai dari perempuan, anak-anak, bahkan kedua keluarga yang bersangkutan.

Sebelum dilanjutkan, berikut adalah penjelasannya:

Definisi dan Alasan Melakukan Pernikahan Siri
Pernikahan siri sering diartikan oleh masyarakat umum dengan; Pertama; pernikahan tanpa wali. Pernikahan semacam ini dilakukan secara rahasia (siri) dikarenakan pihak wali perempuan tidak setuju; atau karena menganggap absah pernikahan tanpa wali; atau hanya karena ingin memuaskan nafsu syahwat belaka tanpa mengindahkan lagi ketentuan-ketentuan syariat; kedua, pernikahan yang sah secara agama namun tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan negara. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak mencatatkan pernikahannya di lembaga pencatatan sipil negara. Ada yang karena faktor biaya, alias tidak mampu membayar administrasi pencatatan; ada pula yang disebabkan karena takut ketahuan melanggar aturan yang melarang pegawai negeri nikah lebih dari satu; dan lain sebagainya. Ketiga, pernikahan yang dirahasiakan karena pertimbangan-pertimbangan tertentu; misalnya karena takut mendapatkan stigma negatif dari masyarakat yang terlanjur menganggap tabu pernikahan siri; atau karena pertimbangan-pertimbangan rumit yang memaksa seseorang untuk merahasiakan pernikahannya.

Sesungguhnya ada dua hukum yang harus dikaji secara berbeda; yakni (1) hukum pernikahannya; dan (2) hukum tidak mencatatkan pernikahan di lembaga pencatatan negara
Dari aspek pernikahannya, nikah siri tetap sah menurut ketentuan syariat, dan pelakunya tidak boleh dianggap melakukan tindak kemaksiatan, sehingga tidak berhak dijatuhi sanksi hukum. Pasalnya, suatu perbuatan baru dianggap kemaksiatan dan berhak dijatuhi sanksi di dunia dan di akherat, ketika perbuatan tersebut terkategori ”mengerjakan yang haram” dan ”meninggalkan yang wajib”. Seseorang baru absah dinyatakan melakukan kemaksiatan ketika ia telah mengerjakan perbuatan yang haram, atau meninggalkan kewajiban yang telah ditetapkan oleh syariat. Begitu pula orang yang meninggalkan atau mengerjakan perbuatan-perbuatan yang berhukum sunnah, mubah, dan makruh, maka orang tersebut tidak boleh dinyatakan telah melakukan kemaksiyatan; sehingga berhak mendapatkan sanksi di dunia maupun di akherat. Untuk itu, seorang qadliy tidak boleh menjatuhkan sanksi kepada orang-orang yang meninggalkan perbuatan sunnah, dan mubah; atau mengerjakan perbuatan mubah atau makruh.

Seseorang baru berhak dijatuhi sanksi hukum di dunia ketika orang tersebut; pertama, meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan sholat, jihad, dan lain sebagainya; kedua, mengerjakan tindak haram, seperti minum khamer dan mencaci Rasul saw, dan lain sebagainya; ketiga, melanggar aturan-aturan administrasi negara, seperti melanggar peraturan lalu lintas, perijinan mendirikan bangunan, dan aturan-aturan lain yang telah ditetapkan oleh negara.

Berdasarkan keterangan dapat disimpulkan; pernikahan yang tidak dicatatkan di lembaga pencatatan negara tidak boleh dianggap sebagai tindakan kriminal, pasalnya, pernikahan yang ia lakukan telah memenuhi rukun-rukun pernikahan yang digariskan oleh Allah swt. Adapun rukun-rukun pernikahan adalah sebagai berikut; (1) wali, (2) dua orang saksi, dan (3) ijab qabul. Jika tiga hal ini telah dipenuhi, maka pernikahan seseorang dianggap sah secara syariat walaupun tidak dicatatkan dalam pencatatan sipil.

Saran penulis, melihat birokrasi negara yang ada, akan lebih aman jika nikah siri tidak dilakukan, lagipula tentu akan ada banyak manfaat jika nikah diumumkan kepada khalayak atau tetangga. Di samping menghindari fitnah, urusan administrasi keluarga seperti mendaftarkan anak ke sekolah, atau masalah hak waris akan lebih mudah jika memiliki surat-surat yang lengkap. Wallohhu ‘alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s